An inspiring and deeply moving tale of a young, passionate girl named Razan who balances her school life with a burning desire to help others through medical volunteering. Even when tragedy strikes her village, her unwavering spirit shines as a beacon of hope and selflessness. A heartbreaking yet beautiful story about family love, resilience, and the ultimate sacrifice of a young hero.
On the quiet night of September 13, 2007, the soft cry of a newborn baby echoed through the hospital halls, bringing immense joy to her parents, Ashraf and Shabreen. They named their firstborn daughter Razan, a precious baby girl who brought a fresh spark of hope into their lives.
As the years passed, the family grew lively and full of laughter with the arrival of Razan's three younger brothers and two younger sisters. Now the eldest sibling, Razan helped her mother care for the little ones in their cozy apartment in Cugenang, Cianjur.
Razan grew into a bright, enthusiastic junior high school student who wore a proud red hijab. Every Tuesday afternoon she practiced beautiful brushstrokes in calligraphy class, and every Wednesday she eagerly trained with the Junior Red Cross, always supported by her loving parents.
On a Monday afternoon in November 2022, a sudden, violent earthquake shook the school during recess. Amidst the roaring sound of crumbling walls and panic, Razan and her classmates rushed out of the building to seek safety in the open courtyard.
With most of the town in ruins, the survivors set up a temporary camp in front of the mosque, where the children continued their lessons in large tents. As Razan was walking back to her family's tent after class, a medical volunteer stopped her to ask for help.
The medical team was short-handed and asked the brave girl in the red hijab if she would join them as a little doctor helper. Without a moment of hesitation, Razan smiled brightly and accepted the white volunteer vest, eager to serve her community.
For two weeks, Razan worked tirelessly at the camp, bringing smiles and comfort to injured neighbors and frightened children. She wore her white vest with immense pride, becoming a beloved symbol of hope and healing amidst the devastation.
One afternoon, while gently treating a patient, Razan suddenly felt dizzy, her nose began to bleed, and she collapsed to the ground. Her close friend Faris saw her fall and immediately called out in a panic to their friends, Izzat and Raisya, for help.
The children quickly placed Razan on a stretcher and rushed her to the main medical tent as fast as their legs could carry them. Sadly, it was too late, and the dedicated little doctor peacefully closed her eyes for the last time, leaving her mother Shabreen weeping in profound sorrow.
The doctor gently explained to the grieving family that Razan had secretly been battling leukemia before the tragedy. Though her life ended far too soon, Ashraf and Shabreen knew their beloved daughter had died a hero, leaving behind a legacy of education, health, and endless love.
مطالبة التوليد(سجّل الدخول لرؤية المطالبة الكاملة)
Buatkan story book berjudul"Razan,sang dokter cilik yang syahid"menceritakan seorang gadis kecil berhijab merah yang memiliki semangat tinggi dalam mengikuti PMR dan pelajaran di sekolahnya, halaman maksimal 4 kalimat,menggunakan bahasa yang sering digunakan sehari hari dan mudah dimengerti semua pembaca,tokoh utama bernama"Razan"(gadis berhijab merah),tokoh lainnya,yaitu:Ayahnya Razan (Ashraf ( orang arab ) yaitu seorang pebisnis besi tua dan akhirnya banting setir jadi montir sepeda motor tetapi menganggur setelah kematian putri sulungnya ,ibunya Razan (Shabreen ( seorang muslimah yang merupakan orang pribumi sunda ),Teman Razan ( Faris Al-Qidra ), Sinopsisnya: • Tanggal 13 September 2007,sebuah rumah sakit terdengar suara tangisan bayi, menjadi awal baru bagi Ashraf dan Shabreen, putri mereka yang pertama, Razan, lahir di malam itu juga. • seiring waktu, keluarga mereka semakin ramai, Karena lahirnya adik-adik Razan, 3 adik laki-laki, dan 2 adik perempuan, dan si sulung,Razan, sudah semakin besar, mereka tinggal di sebuah apartemen di Cugenang, Cianjur • Razan, kini duduk di Sebuah sekolah menengah pertama di Cianjur, dan setiap hari Rabu, dia mengikuti Ekskul PMR, dan setiap hari Selasa sore sepulang sekolah, dia ikut kursus kaligrafi, tidak hanya itu, di kelas, dia terpilih sebagai Sie. Kesehatan. Ashraf dan Shabreen pun tidak lupa mendukung dan menyemangati putrinya dalam aspek pendidikan dan dunia medis. • namun,Tragedi memilukan terjadi ketika senin siang, 21 November 2022 , jam istirahat kedua, di saat para murid berhamburan keluar kelas, mereka, termasuk Razan, tetiba merasakan guncangan dahsyat,semua warga sekolah, berhamburan keluar gedung. • sebagian besar gedung hancur, dan sebagian besar penduduknya selamat, merekapun terpaksa harus mengungsi ke depan masjid, keesokan harinya, selesai melakukan KBM sementara di salah satu tenda yang menjadi sekolah para anak pengungsi. Razan, hendak pulang ke tenda, namun dihampiri oleh salah seorang tenaga medis. Seorang tenaga medis tersebut berkata bahwa anggotanya kekurangan 1 orang, sekaligus menawari Razan untuk menjadi dokter cilik untuk mengisi kekurangan anggota,bukannya menolak, tp justru mau ditawari untuk menjadi dokter cilik. • namun, 14 hari setelah diterimanya Razan menjadi dokter cilik, ketika Razan, sedang mengobati salah satu pasien, dia mimisan, lemas, Dan seketika itu juga, dia tidak sadarkan diri, salah seorang temannya, Faris,yang mengetahui hal itu, langsung memanggil kedua temannya, izzat shatat, dan Raisya Abdurrahman Qania. Untuk menandu Razan menuju tenda posko medis, namun semuanya terlambat ketika sesampainya disana, Razan, si gadis kecil berhijab merah dan berompi putih itu, sudah tidak dapat lagi terselamatkan, Sang ibu, Shabreen, yang mendengar putrinya tiada, langsung mengucurkan air mata saking sedihnya. Ketika Shabreen bertanya yang terjadi pada putrinya sebelum kepergiannya kepada dokter, dokter pun mengatakan bahwa sebelum dia benar-benar tiada, dia sempat mengalami leukemia. Semua yang mendengar pun, ikut sedih dan berduka, Razanpun dimakamkan di pemakaman dekat kamp pengungsian, meski akhir hidupnya berakhir tragis, namun, bagi Ashraf dan Shabreen, putrinya adalah seorang murid yang sangat berjasa , baik dibidang pendidikan maupun kesehatan.