Sebuah kisah emosional tentang seorang anak perempuan yang tumbuh besar dengan ambisi membara untuk membuat ayahnya bangga, sekaligus bergulat dengan bayang-bayang luka masa lalu dan kegagalan hidup. Ikuti perjalanan penemuan diri, memutus rantai masa lalu, dan menemukan kekuatan sejati dari dalam diri sendiri.
Generation Prompt(Sign in to view the full prompt)
# BAB — ANAK PEREMPUAN YANG INGIN MEMBUKTIKAN DIRI KEPADA AYAHNYA Gue punya ambisi yang besar. Dulu, mungkin gue bahkan tidak tahu kapan ambisi itu mulai tumbuh. Yang gue tahu, gue selalu ingin menjadi seseorang yang berhasil. Gue ingin punya banyak uang, punya bisnis besar, punya rumah bagus, mobil bagus, dan kehidupan yang jauh lebih baik daripada apa yang pernah gue lihat ketika kecil. Kalau dipikir sekarang, mungkin gue memang pernah menjadi orang yang serakah. Gue ingin lebih. Gue ingin lebih besar. Gue ingin membuktikan bahwa gue mampu melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah dibayangkan orang dari seorang anak perempuan seperti gue. Tapi ada satu hal yang mungkin tidak banyak orang tahu: di balik ambisi itu, ada seorang anak perempuan yang ingin membuat ayahnya bangga. Gue ingin suatu hari bisa berdiri di hadapan bokap dan berkata, bahwa anak perempuannya ini berhasil. Bahwa gue juga punya kemampuan. Bahwa gue bisa membangun sesuatu dari nol, mengambil keputusan besar, mencari uang, memimpin orang, dan menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Seolah-olah ada suara kecil di dalam diri gue yang terus berkata: *“Lihat, Pah. Anak Papah yang perempuan ini juga hebat.”* Mungkin ambisi gue bukan semata-mata tentang kekayaan. Mungkin ada bagian dari diri gue yang sejak kecil ingin mendapatkan pengakuan. Gue ingin membuktikan bahwa gue bisa menjadi seseorang yang membanggakan, terutama di mata orang yang sangat gue sayangi. Ironisnya, orang itu juga bagian dari cerita yang menyimpan banyak luka masa kecil gue. Gue tumbuh dengan menyaksikan bagaimana bokap berkali-kali menyakiti nyokap karena perempuan lain. Gue melihat keadaan rumah yang kadang kekurangan, sementara bokap tetap bisa tampil rapi, memakai baju bagus, punya handphone bagus, dan terlihat terawat. Banyak teman gue memuji ketampanannya. Sementara nyokap seperti harus mengurus rumah tangga dan menanggung banyak hal sendirian. Gue tidak pernah benar-benar bisa memahami bagaimana dua kenyataan itu bisa hidup berdampingan. Gue sayang sama bokap, tetapi gue juga sakit hati melihat nyokap diperlakukan seperti itu. Mungkin sejak kecil gue menyimpan dua keinginan yang saling bertentangan. Gue ingin membahagiakan bokap, tetapi gue juga ingin kehidupan gue kelak tidak seperti kehidupan nyokap. Gue ingin menjadi anak yang membanggakan, tetapi gue tidak ingin menjadi perempuan yang harus terus mengalah dan menanggung semuanya sendirian. Lalu gue tumbuh dengan ambisi yang semakin besar. Gue bekerja, membangun bisnis, mengambil risiko, mencari peluang, dan berusaha membuat sesuatu yang bisa gue banggakan. Ketika bisnis mulai berkembang, ketika gue bisa membangun kantor, mempekerjakan orang, membeli aset, dan menghasilkan uang, ada kepuasan tersendiri yang sulit gue jelaskan. Gue merasa sedang membuktikan sesuatu. Bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri gue sendiri. Bahwa gue bukan perempuan yang tidak punya apa-apa. Bahwa gue bisa berdiri dengan kemampuan gue sendiri. Bahwa anak perempuan yang dulu hanya bisa melihat keadaan rumahnya ternyata bisa membangun kehidupan yang jauh lebih besar. Namun, semakin jauh gue berjalan, semakin banyak pula hal yang harus gue hadapi. Ada keputusan yang salah, ada kepercayaan yang gue berikan kepada orang yang keliru, ada hubungan yang menyakitkan, dan ada bisnis yang pada akhirnya tidak bisa gue pertahankan. Semua yang pernah gue bangun akhirnya tidak selalu bisa gue selamatkan. Dan ketika rumah tangga gue gagal untuk ketiga kalinya, pikiran gue mulai berjalan ke tempat yang tidak pernah gue duga. Gue pernah bertanya-tanya, apakah ini karma? Bokap gue dulu sering berselingkuh dan menyakiti nyokap. Lalu kenapa gue harus mengalami kegagalan rumah tangga berkali-kali? Apakah ada kesalahan orang tua yang akhirnya harus gue tanggung? Apakah kehidupan gue seperti sedang mengulang cerita yang dulu pernah gue saksikan di rumah? Pertanyaan itu pernah terasa begitu nyata. Gue sampai menghubungkan kegagalan rumah tangga gue dengan apa yang dilakukan bokap kepada nyokap. Seolah-olah ada sesuatu yang diwariskan kepada gue, bukan dalam bentuk harta atau nama keluarga, melainkan nasib buruk yang tidak bisa gue hindari. Tapi gue juga tahu, gue tidak bisa memastikan bahwa semua itu adalah karma. Perselingkuhan bokap adalah pilihan bokap. Kesalahan yang pernah gue lakukan adalah tanggung jawab gue sendiri. Dan luka yang gue alami dari orang lain bukanlah sesuatu yang pantas gue terima sebagai hukuman atas perbuatan siapa pun. Mungkin yang lebih masuk akal untuk gue pahami adalah bahwa masa kecil bisa meninggalkan cara pandang yang terbawa sampai dewasa. Gue pernah melihat bagaimana seorang perempuan bertahan dalam hubungan yang menyakitkan. Gue pernah melihat bagaimana pengkhianatan hadir di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Lalu, ketika gue menjalani hubungan sendiri, mungkin ada hal-hal yang tidak gue sadari sedang gue bawa dari masa lalu. Gue tidak sedang mengatakan bahwa