Sebuah kisah romansa dewasa yang hangat antara Karma Akabane, seorang dosen informatika yang tajam, dan Hana, istrinya yang tenang. Di tengah penantian kelahiran anak pertama mereka, Karma harus berdamai dengan ketidaksukaannya pada kebisingan demi cinta tulusnya pada Hana.
Karma melangkah masuk ke dalam rumah yang hangat, melepaskan dasinya setelah seharian mengajar di fakultas informatika. Hana menyambutnya dengan senyuman tipis namun menenangkan, perutnya yang sudah membuncit tujuh bulan terlihat jelas di balik pakaian rumahan yang nyaman.
Di meja makan, Karma bercerita dengan nada sinis yang khas tentang mahasiswa-mahasiswanya yang berisik dan tidak kompeten. Hana mendengarkan dengan tenang tanpa memotong, sesekali memberikan tanggapan singkat namun logis yang membuat Karma tersenyum kecil karena kecerdasan istrinya.
Pagi harinya, Hana sibuk menata sepatu-sepatu bayi mungil yang baru saja ia beli di atas meja kayu yang estetik. Karma memperhatikannya dari ambang pintu dengan alis terangkat, masih merasa heran mengapa istrinya bisa begitu menyukai makhluk kecil yang menurutnya hanya akan merusak ketenangan rumah mereka.
"Kakak, coba lihat ini, bukankah warnanya sangat cocok untuknya nanti?" tanya Hana sambil menunjukkan baju terusan kecil berwarna lembut. Karma mendekat dan mengacak rambut Hana pelan, bergumam bahwa ia lebih khawatir tentang volume suara bayi itu nanti daripada sekadar masalah warna baju.
Saat Karma sedang asyik memeriksa barisan kode pemrograman di laptopnya, Hana duduk di sampingnya dengan napas yang sedikit berat. Ia meraih tangan suaminya dan menuntunnya untuk menyentuh perutnya, meminta Karma untuk merasakan keajaiban kecil yang sedang terjadi di sana.
Untuk sesaat, suasana ruang kerja itu menjadi sunyi saat Karma merasakan tendangan kecil namun kuat menghantam telapak tangannya. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini melembut, terpaku pada reaksi kehidupan nyata yang tidak bisa dijelaskan dengan logika informatika.
Hana bercerita dengan mata berbinar tentang betapa ia selalu menyukai anak kecil dan sudah tidak sabar untuk menggendong buah hati mereka. Meski Karma tetap bersikeras bahwa ia tidak suka anak kecil yang berisik, ia tidak menjauhkan tangannya dari perut Hana, seolah sedang menjaga harta yang paling berharga.
Sore itu mereka berjalan santai di taman kompleks, dengan Karma yang berjalan sangat lambat demi menyesuaikan langkah Hana yang mulai terbatas karena usia kehamilan. Karma tampak waspada menjaga Hana dari kerumunan anak-anak yang berlarian, merangkul bahu istrinya dengan sikap protektif yang posesif.
"Aku tetap tidak suka kebisingan, tapi kalau itu berasal darimu dan dia, mungkin aku akan mencoba membiasakan diri," bisik Karma saat mereka beristirahat di bawah pohon rindang. Hana hanya tersenyum simpul, tahu betul bahwa di balik sikap ketusnya, suaminya itu sebenarnya sudah mulai jatuh cinta pada calon anak mereka.
Cahaya matahari terbenam menyinari wajah mereka berdua, menciptakan siluet yang damai dan penuh harapan di penghujung hari. Karma menyandarkan kepalanya di bahu Hana, menantikan hari di mana rutinitas logikanya akan berubah menjadi petualangan baru bersama keluarga kecil mereka.
Generation Prompt(Sign in to view the full prompt)
buatkan cerita karma akabane x [name], di mana name mbtinya itu istp 9w1 dan karma wataknya seperti di anime ansatsu kyousitsu, tapi jangan sebut terus menerus mbtinya jadikan itu sebagai acuan sikap antarkarakter saja. lalu name memanggil karma dengan sebutan kakak soalnya dia dulu adek tingkat karma di kampus, karma manggil name tetep pake aku kamu, mereka sudah menikah, karma bekerja sebagai dosen informatika di kampus dan name menjadi ibu rumah tangga, name udah bukan muridnya lagi, antara karma dan name cuma beda setahun aja, pake sudut pandang orang ketiga, name sedang hamil 7 bulan, name dari dulu emang suka anak kecil, sedangkan karma ga begitu suka karena menurutnya anak kecil itu berisik